DPKSumenep.id – Upaya meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru terus dilakukan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep. Salah satunya melalui kegiatan “Pelatihan Menulis Karya Ilmiah bagi Guru SD dan SMP” yang dijadwalkan berlangsung pada awal Juni 2026 mendatang.
Kegiatan tersebut akan diikuti sebanyak 54 guru SD dan SMP dari berbagai wilayah di Kabupaten Sumenep. Pelatihan ini mengusung tema “Meningkatkan Profesionalisme Guru melalui Penulisan Karya Ilmiah dan Publikasi Pendidikan”.
Koordinator kegiatan, Dr Slamet menegaskan, pelatihan tersebut bukan sekadar agenda formalitas, melainkan bagian dari ikhtiar membangun budaya akademik di kalangan guru. Menurutnya, kemampuan menulis karya ilmiah saat ini menjadi kebutuhan penting bagi tenaga pendidik.
“Guru tidak cukup hanya mengajar di ruang kelas. Mereka juga harus mampu menuangkan pengalaman, gagasan, dan inovasi pembelajaran dalam bentuk tulisan ilmiah yang bisa dipublikasikan,” ujarnya.
Ia menilai, masih banyak guru yang memiliki pengalaman dan metode pembelajaran baik, namun belum terdokumentasikan secara akademik. Akibatnya, praktik-praktik pendidikan yang sebenarnya potensial untuk dikembangkan hanya berhenti di ruang kelas masing-masing.
Karena itu, DPKS ingin mendorong para guru agar lebih percaya diri menulis dan memahami sistematika karya ilmiah secara benar. Terlebih, publikasi ilmiah kini juga menjadi salah satu indikator pengembangan karier dan peningkatan kompetensi guru.
Dalam pelatihan tersebut, peserta akan mendapatkan materi dari dosen perguruan tinggi, praktisi pendidikan, serta guru berprestasi. Materi pertama tentang urgensi karya ilmiah guru akan disampaikan Syafiq. Selanjutnya, Ridwan akan membawakan materi teknik penulisan dan sitasi ilmiah.
Tidak hanya teori, peserta juga akan dibimbing dalam praktik penyusunan draft karya ilmiah hingga mengikuti klinik revisi dan pendampingan sampai proses publikasi tulisan. Pendekatan itu dinilai penting agar pelatihan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.
DPKS menargetkan sedikitnya 80 persen peserta memahami sistematika karya ilmiah secara utuh. Selain itu, sekitar 70 persen peserta diharapkan mampu menyelesaikan draft tulisan hingga terpublikasi.
Lebih jauh, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk membentuk komunitas guru penulis di Kabupaten Sumenep. Keberadaan komunitas itu diharapkan menjadi ruang kolaborasi dan diskusi antarguru dalam mengembangkan tradisi literasi akademik di lingkungan sekolah.
Pelatihan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum dan fasilitas, tetapi juga pada kapasitas guru dalam mengembangkan pengetahuan secara berkelanjutan. Guru yang aktif menulis diyakini akan lebih reflektif, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan dunia pendidikan. (bus)