Ilmu Tak Turun dari Langit, Keberhasilan Tak Datang Seketika

Busri Toha, Anggota DP Sumenep

Oleh: Busri Toha

Ada sebuah kalimat sederhana yang sesungguhnya menyimpan pesan besar tentang kehidupan:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ
“Sesungguhnya ilmu hanya dapat diperoleh dengan belajar.”

Dan ada kalimat lain yang tak kalah penting:

إِنَّمَا الشَّجَاعَةُ بِالاجْتِهَادِ وَالصَّبْرِ
“Sesungguhnya keberanian diraih dengan kesungguhan dan kesabaran.”

Dua kalimat tersebut mengingatkan kita pada satu hal yang sering dilupakan: tidak ada sesuatu yang bernilai besar yang lahir tanpa proses.

Ilmu tidak datang hanya karena seseorang ingin menjadi pintar. Keberhasilan juga tidak hadir hanya karena seseorang ingin sukses.

Ada jalan panjang yang harus ditempuh.

Ada buku yang harus dibaca. Ada guru yang harus didengarkan. Ada kesalahan yang harus diperbaiki. Ada kegagalan yang harus diterima. Dan ada kesabaran yang harus terus dipelihara.

Di sinilah belajar menjadi penting.

Belajar bukan sekadar aktivitas di ruang kelas. Bukan pula hanya urusan mendapatkan nilai, ijazah, atau gelar. Belajar adalah proses manusia memperbaiki dirinya dari waktu ke waktu.

Sebab orang yang berhenti belajar, sesungguhnya sedang memberi kesempatan kepada dirinya untuk tertinggal.

Tidak Ada Jalan Pintas Menuju Ilmu

Kita hidup di zaman yang serba cepat.

Informasi bisa diperoleh hanya dengan menyentuh layar telepon. Jawaban atas berbagai pertanyaan dapat ditemukan dalam hitungan detik. Teknologi membuat banyak hal menjadi lebih mudah.

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dipercepat oleh teknologi: proses menjadi manusia yang berilmu dan matang.

Informasi boleh didapat dalam hitungan detik. Tetapi pemahaman membutuhkan waktu.

Orang bisa membaca satu buku dalam beberapa hari. Namun belum tentu nilai-nilai di dalamnya langsung menjadi bagian dari perilakunya.

Karena itu, belajar membutuhkan ketekunan.

Ilmu tidak cukup hanya dikumpulkan. Ia harus dipahami, direnungkan, lalu diamalkan.

Di sinilah makna بِالتَّعَلُّمِ menjadi penting: dengan proses belajar.

Bukan dengan bermimpi.

Bukan dengan mengandalkan keberuntungan.

Apalagi dengan berharap hasil besar tanpa kesungguhan.

Keberhasilan Juga Punya Harga

Demikian pula dengan keberhasilan.

Banyak orang ingin melihat hasil, tetapi tidak semua orang bersedia menjalani proses.

Kita sering melihat seseorang berhasil dan kemudian berkata, “Dia memang beruntung.”

Padahal, yang terlihat oleh mata kita biasanya hanya hasil akhirnya.

Kita tidak melihat berapa kali ia gagal.

Kita tidak melihat berapa banyak waktu yang ia habiskan untuk belajar.

Kita tidak melihat berapa banyak kesulitan yang harus ia lewati.

Dan kita tidak selalu tahu berapa panjang jalan yang ditempuh sebelum akhirnya sampai pada titik yang sekarang.

Karena itu, keberhasilan tidak seharusnya hanya dilihat dari hasil akhirnya. Proses adalah bagian dari keberhasilan itu sendiri.

Seseorang yang terus belajar meskipun belum berhasil, sesungguhnya sedang membangun dirinya.

Seseorang yang tetap bekerja keras meskipun hasilnya belum terlihat, sedang menanam sesuatu yang mungkin baru akan dipanen di kemudian hari.

Berani Bukan Berarti Tidak Takut

Kalimat kedua juga menarik untuk direnungkan:

إِنَّمَا الشَّجَاعَةُ بِالاجْتِهَادِ وَالصَّبْرِ

Keberanian tidak selalu berarti berani menghadapi sesuatu yang besar tanpa rasa takut.

Dalam kehidupan sehari-hari, keberanian bisa berbentuk lebih sederhana: berani mencoba, berani belajar, berani mengakui kesalahan, berani memperbaiki diri, dan berani memulai kembali setelah gagal.

Semua itu membutuhkan kesungguhan dan kesabaran.

Orang yang sabar dalam belajar akan menemukan keberanian untuk terus mencoba.

Orang yang tekun bekerja akan memiliki keberanian menghadapi tantangan.

Dan orang yang terbiasa melewati proses akan memahami bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan.

Justru dari proses itulah mental seseorang ditempa.

Jangan Hanya Mengajarkan Anak Mengejar Hasil

Pesan ini menjadi sangat relevan dalam dunia pendidikan.

Anak-anak kita jangan hanya diajarkan mengejar nilai tinggi. Mereka juga perlu diajarkan mencintai proses belajar.

Jangan hanya bertanya, “Berapa nilaimu?”

Sesekali tanyakan pula:

“Apa yang kamu pelajari hari ini?”

“Apa yang belum kamu pahami?”

“Apa yang sudah kamu coba?”

“Apa yang bisa kamu perbaiki?”

Sebab pendidikan sejatinya bukan hanya tentang menghasilkan anak yang mampu menjawab soal.

Pendidikan juga tentang membentuk manusia yang mau terus belajar, mampu bersabar, tidak mudah menyerah, dan memiliki keberanian untuk menghadapi kehidupan.

Pada akhirnya, dua kalimat sederhana itu seperti mengetuk kesadaran kita:

Ilmu memiliki jalan: belajar.

Keberhasilan memiliki jalan: kesungguhan dan kesabaran.

Maka jangan terlalu cepat ingin sampai, jika kita belum bersedia berjalan.

Jangan iri melihat keberhasilan orang lain, jika kita belum mengetahui panjangnya perjalanan yang mereka tempuh.

Dan jangan menganggap proses sebagai beban.

Sebab sering kali, justru dalam proses itulah seseorang sedang dipersiapkan untuk pantas menerima hasil yang diinginkannya.

Ilmu tidak turun begitu saja dari langit. Keberhasilan pun tidak jatuh begitu saja ke tangan. Keduanya menuntut satu hal yang sama: kesediaan untuk belajar, berikhtiar, dan bersabar.

4 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments