Dari Langgar ke Sekolah: Pendidikan Nilai dalam Budaya Madura

Oleh: Dr. Salamet, S.Fil.I, M.Ag

(Dosen STKIP PGRI Sumenep dan Anggota DPK Sumenep)

Pendahuluan

Sebelum sekolah formal hadir dan menjadi institusi utama pendidikan, masyarakat Madura telah mengenal ruang-ruang pendidikan berbasis tradisi yang hidup dan membumi. Salah satunya sebagai institusi pendidikan masyarakat adalah Langgar. Dalam kehidupan sosial orang Madura, Langgar bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang awal pembentukan kepribadian, penanaman nilai moral, serta internalisasi etika sosial dan religius. Di ruang sederhana inilah anak-anak Madura pertama kali belajar tentang adab, hormat kepada orang tua dan guru, disiplin, serta tanggung jawab sebagai bagian dari komunitas (Koentjaraningrat, 2009: 312).

Pendidikan yang berlangsung di Langgar menunjukkan bahwa konsep belajar dalam masyarakat Madura tidak pernah terbatas pada bangku sekolah. Pendidikan dipahami sebagai proses sosial dan kultural yang berlangsung melalui keteladanan, pembiasaan, dan relasi antargenerasi. Nilai-nilai diajarkan bukan melalui ceramah sistematis, melainkan melalui praktik hidup sehari-hari yang sarat makna. Pola pendidikan semacam ini sejalan dengan pandangan Tilaar (2012: 45) bahwa pendidikan tradisional berfungsi sebagai mekanisme pewarisan nilai budaya dan moral masyarakat.

Dalam konteks tersebut, pendidikan nilai menjadi fondasi utama pembentukan karakter. Budaya Madura menempatkan pendidikan etika dan moral sebagai inti dari proses mendidik manusia. Prinsip Bhuppa’, Bhabbhu’, Ghuru, Rato’, misalnya, menegaskan hierarki penghormatan yang sekaligus menjadi kerangka pendidikan sosial sejak usia dini. Nilai harga diri, solidaritas (taretan), dan keutamaan memilih kebaikan (lebbi becce’) membentuk karakter individu sebelum mereka mengenal sistem pendidikan formal (Syarif, 2015: 88).

Namun, masuknya pendidikan modern melalui sekolah formal membawa perubahan signifikan. Sekolah hadir dengan kurikulum terstruktur, standar akademik, dan orientasi kognitif yang kuat. Di satu sisi, sekolah membuka akses pengetahuan dan mobilitas sosial; di sisi lain, ia seringkali terlepas dari konteks budaya lokal. Di sinilah muncul kontras antara Langgar sebagai ruang pendidikan nilai dan sekolah sebagai ruang pendidikan akademik. Ketika pendidikan formal kurang terhubung dengan akar budaya masyarakat, terjadi risiko terputusnya transmisi nilai yang selama ini hidup secara organik dalam tradisi lokal (Zamroni, 2011: 67).

Berangkat dari realitas tersebut, artikel ini mencoba menelusuri bagaimana pendidikan nilai dalam budaya Madura — yang tumbuh dari Langgar — dapat dibaca kembali dan direlevansikan dengan pendidikan sekolah modern. Sebab, pendidikan yang kuat bukan hanya soal kecakapan intelektual, tetapi juga soal akar nilai yang menumbuhkan manusia berkarakter dan bermartabat.

Langgar sebagai Ruang Pendidikan Nilai dalam Budaya Madura

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, ruang belajar tidak selalu identik dengan institusi formal. Pada masyarakat tradisional, pendidikan sering kali berlangsung dalam ruang-ruang sosial yang hidup dan dekat dengan keseharian masyarakat. Langgar dalam budaya Madura merupakan salah satu contoh ruang pendidikan nonformal yang memiliki fungsi strategis dalam pembentukan nilai dan karakter individu. Secara sosial, Langgar berfungsi sebagai pusat interaksi, pembinaan moral, serta pewarisan nilai keagamaan dan budaya dari generasi ke generasi (Dhofier, 2011: 55).

Keberadaan Langgar tidak dapat dilepaskan dari peran tokoh agama seperti kiai, ustaz, dan sesepuh kampung. Mereka bukan sekadar pengajar teks keagamaan, melainkan figur teladan yang menjadi rujukan moral dan sosial masyarakat. Dalam tradisi Madura, otoritas keilmuan dan moral seorang kiai dibangun melalui keteladanan hidup, kesalehan pribadi, dan konsistensi sikap. Pola pendidikan ini sejalan dengan konsep uswah hasanah, yaitu pendidikan melalui keteladanan, yang secara pedagogis dinilai lebih efektif daripada sekadar transfer pengetahuan verbal (Al-Attas, 1993: 78).

Nilai-nilai yang ditanamkan melalui pendidikan Langgar mencakup religiusitas sebagai fondasi utama kehidupan, disiplin dalam menjalankan ibadah dan kewajiban sosial, serta sikap hormat dan sopan santun dalam relasi sosial. Anak-anak Madura sejak dini dibiasakan menghormati orang yang lebih tua, guru, dan tokoh agama sebagai bagian dari etika hidup bermasyarakat. Selain itu, Langgar juga menjadi ruang pembelajaran kebersamaan (taretan), di mana individu belajar hidup kolektif, saling membantu, dan menjaga harmoni sosial (Syarif, 2015: 91).

Dengan demikian, Langgar tidak hanya mencetak individu yang religius, tetapi juga membentuk karakter sosial yang berakar kuat pada nilai kebersamaan dan etika lokal.

Budaya Madura memiliki sistem nilai yang berfungsi sebagai kerangka pendidikan sosial dan moral. Salah satu pilar nilai yang paling dikenal adalah prinsip Bhuppa’, Bhabbhu’, Ghuru, Rato’, yang mencerminkan hierarki penghormatan dalam kehidupan orang Madura. Prinsip ini mengajarkan bahwa ayah, ibu, guru, dan pemimpin harus dihormati secara berurutan, bukan hanya sebagai struktur sosial, tetapi sebagai mekanisme pendidikan etika dan tanggung jawab moral (Koentjaraningrat, 2009: 314).

Selain itu, konsep ajina dhiri (harga diri) menempati posisi penting dalam pendidikan nilai Madura. Harga diri tidak dipahami secara individualistis, melainkan sebagai tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan diri, keluarga, dan komunitas. Dalam konteks pendidikan, ajina dhiri berfungsi sebagai kontrol etis yang mendorong individu bertindak sesuai norma sosial dan agama (Wiyata, 2013: 67).

Nilai lain yang tak kalah penting adalah lebbi becce’, yakni prinsip mengutamakan kebaikan dan etika dalam setiap pilihan hidup. Prinsip ini menekankan bahwa keberhasilan hidup tidak semata-mata diukur dari capaian materi atau status sosial, melainkan dari kualitas moral dan kemanfaatan sosial. Sementara itu, taretan mencerminkan kuatnya solidaritas dan ikatan sosial yang menjadi modal sosial utama masyarakat Madura (Putra, 2014: 102).

Seluruh nilai tersebut berakar pada religiusitas yang kuat. Agama tidak hanya dipraktikkan sebagai ritual, tetapi menjadi fondasi etika sosial dan rujukan utama dalam menentukan baik dan buruk. Dalam hal ini, budaya Madura menunjukkan integrasi erat antara nilai agama dan kehidupan sosial, yang secara tidak langsung membentuk sistem pendidikan nilai yang holistik (Dhofier, 2011: 61).

Relevansi Pendidikan Nilai Madura bagi Pendidikan Nasional

Dalam konteks pendidikan nasional, wacana penguatan pendidikan karakter sering kali diposisikan sebagai respons atas krisis moral dan sosial yang dihadapi masyarakat modern. Namun, upaya tersebut kerap berhenti pada tataran normatif dan kebijakan administratif. Padahal, berbagai tradisi lokal di Indonesia — termasuk budaya Madura — menyimpan sumber pendidikan nilai yang telah teruji secara sosial dan historis. Kearifan lokal tidak hanya merepresentasikan identitas budaya, tetapi juga mengandung nilai pedagogis yang relevan bagi pembentukan karakter peserta didik (Tilaar, 2012: 121).

Pendidikan nilai dalam budaya Madura menunjukkan bahwa karakter tidak dibentuk melalui pengajaran abstrak, melainkan melalui praktik hidup yang membumi. Nilai religiusitas, hormat, disiplin, tanggung jawab, dan solidaritas diajarkan melalui relasi sosial sehari-hari, terutama dalam ruang-ruang komunitas seperti Langgar dan pesantren. Model pendidikan semacam ini sejalan dengan pendekatan pendidikan karakter berbasis budaya, yang menekankan pentingnya konteks sosial dan kultural dalam proses internalisasi nilai (Lickona, 2013: 56).

Dalam hal ini, Madura dapat dipandang sebagai contoh pendidikan nilai berbasis komunitas. Proses pendidikan tidak dimonopoli oleh sekolah, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif keluarga, tokoh agama, dan masyarakat. Prinsip Bhuppa’, Bhabbhu’, Ghuru, Rato’ memperlihatkan bagaimana struktur sosial sekaligus berfungsi sebagai struktur pendidikan moral. Pendidikan berlangsung secara integratif antara ruang privat, komunal, dan institusional (Wiyata, 2013: 84).

Lebih jauh, integrasi nilai-nilai lokal ke dalam pendidikan nasional berkontribusi pada penguatan identitas kebangsaan. Identitas nasional Indonesia tidak dibangun dengan menyeragamkan budaya, melainkan dengan merawat keberagaman nilai lokal sebagai fondasi kebudayaan nasional. Dalam perspektif ini, pendidikan nilai Madura bukan hanya milik komunitas lokal, tetapi juga bagian dari mozaik pendidikan karakter bangsa Indonesia (Koentjaraningrat, 2009: 421).

Penutup

Uraian di atas menunjukkan bahwa Langgar dan sekolah sejatinya tidak berada dalam hubungan yang saling menegasikan. Keduanya merepresentasikan dua wajah pendidikan yang berbeda namun saling melengkapi. Langgar berperan sebagai ruang pembentukan nilai dan karakter, sementara sekolah formal berfungsi sebagai ruang pengembangan pengetahuan dan keterampilan akademik. Ketika keduanya dipertautkan secara harmonis, pendidikan akan menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

Pendidikan nilai tidak dapat direduksi menjadi mata pelajaran atau slogan kebijakan. Nilai harus hidup dalam keseharian, dipraktikkan melalui keteladanan, relasi sosial, dan budaya komunitas. Pengalaman budaya Madura memperlihatkan bahwa pendidikan yang efektif justru tumbuh dari kebiasaan, tradisi, dan relasi manusia yang autentik. Di sinilah Langgar menemukan relevansinya kembali dalam dunia pendidikan modern.

Oleh karena itu, upaya memajukan pendidikan nasional perlu disertai kesadaran untuk menjaga dan mengintegrasikan kearifan lokal sebagai sumber nilai pendidikan masa depan. Merawat tradisi bukan berarti menolak modernitas, melainkan memastikan bahwa kemajuan pendidikan tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan bangsa. Dari Langgar ke sekolah, pendidikan nilai Madura menawarkan pelajaran penting: bahwa pendidikan sejati adalah proses memanusiakan manusia.

Referensi:

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 1993. Islam and Secularism. Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).

Dhofier, Zamakhsyari. 2011. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai dan Visinya mengenai Masa Depan Indonesia. Edisi Revisi. Jakarta: LP3ES.

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Lickona, Thomas. 2013. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Putra, Heddy Shri Ahimsa. 2014. Antropologi Pendidikan: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Ombak.

Syarif, Zainuddin. 2015. Budaya dan Identitas Orang Madura. Pamekasan: STAIN Pamekasan Press.

Tilaar, H.A.R. 2012. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Wiyata, Latief. 2013. Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura. Yogyakarta: LKiS.

Zamroni. 2011. Pendidikan Demokrasi pada Masyarakat Multikultural. Yogyakarta: Gavin Kalam Utama.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments