DPKSumenep.id, GARUT – Di tengah keberagaman keyakinan yang menjadi wajah Indonesia, dialog lintas iman bukan sekadar ruang perjumpaan. Lebih dari itu, dialog menjadi pengingat bahwa kemanusiaan dan keluhuran moral harus berdiri di atas segala perbedaan.
Semangat itulah yang mengemuka dalam Dialog Multikultural bertema “Menegakkan Kemanusiaan dan Keluhuran Moral Lintas Iman” di Pendopo Agung Kabupaten Garut, Selasa (13/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut mempertemukan sejumlah tokoh lintas agama, mulai dari Islam, Konghucu, Buddha, hingga perwakilan penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan.
Perjumpaan lintas keyakinan itu menghadirkan pesan penting: kerukunan tidak cukup berhenti pada pengakuan bahwa masyarakat Indonesia beragam. Kerukunan harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati, kesediaan berdialog, dan komitmen menjaga martabat setiap manusia.
Di antara peserta yang hadir, terdapat perwakilan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep, yakni Sekretaris Amir Syarifuddin dan Dr. Slamet. Keduanya menyempatkan diri mengikuti forum tersebut sebelum melanjutkan agenda menuju pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Dewan Pendidikan se-Indonesia.
Rakornas dijadwalkan berlangsung pada malam hari, pukul 19.00 WIB, di Hotel Harmoni. Kehadiran perwakilan Dewan Pendidikan Sumenep dalam dua agenda tersebut mempertemukan dua isu penting dalam kehidupan berbangsa: penguatan nilai kemanusiaan dan peran pendidikan dalam membangun masyarakat yang berkarakter.
Sebab, pendidikan sejatinya tidak hanya berbicara tentang capaian akademik, kurikulum, atau angka kelulusan. Pendidikan juga memiliki tanggung jawab menumbuhkan penghormatan terhadap perbedaan, membangun kepekaan sosial, serta membentuk generasi yang menjunjung tinggi nilai moral dan kemanusiaan.
Dalam konteks itu, dialog multikultural menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kemampuan manusia hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan.
Pesan tersebut relevan untuk dibawa ke forum Rakornas Dewan Pendidikan se-Indonesia. Tantangan pendidikan ke depan bukan hanya memastikan peserta didik menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga menjaga agar kemajuan itu berjalan seiring dengan penguatan karakter, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama.
Dari Garut, dialog lintas iman mengingatkan bahwa membangun bangsa tidak cukup dengan mencerdaskan pikiran. Bangsa juga membutuhkan pendidikan yang merawat nurani, sebab kecerdasan tanpa penghormatan terhadap kemanusiaan berisiko kehilangan makna. (bus)