Oleh Salamet Wahedi, M. A.*
Sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi
(Goenawan Mohamad, Kwatrin tentang Sebuh Poci, 1973).
Jurnalis National Geographic, Russ Rymer, dalam laporannya, Suara-Suara yang Sirna pada tahun 2012, mengatakan bahwa hampir setiap 14 hari satu bahasa punah. Satu laporan yang membuat kita cemas, was-was dan khawatir. Mengapa demikian? Lenyapnya suatu bahasa, tulis Rymer, berarti lenyap pula pengetahuan yang sama berharganya dengan obat ajaib masa depan. Bahasa, terutama bahasa ibu, bukan sekadar alat komunikasi, penyampai pesan atau gagasan. Bahasa ibu -juga bahasa nasional – adalah jejaring yang mengikat kita menjadi satu-kesatuan komunitas.
Berbagai upaya dilakukan dan terus dilakukan untuk menyelamatkan dan melestarikan bahasa ibu, bahasa yang kali pertama mengajari kita hal-ihwal kehidupan. Dalam bahasa ibulah, kita menamai, menandai, menyimpan berbagai kenangan di masa kecil: permainan, makanan kesukaan, sapaan pada sanak saudara, dan tempat-tempat yang membuat masa kecil kita bermakna. Dengan bahasa ibu, kita mengerti arti batasan dan perbedaan antara orang tua, saudara dan tetangga.
Tapi bahasa itu dinamis. Ia tumbuh dan tumbang tanpa bisa kita timbang. Serupa nalar kita yang selalu cermat untuk mengenali dan menyusun berbagai cara dalam mencapai maksud dan tujuan. Lalu kenapa bahasa bisa punah dan kita merasa khawatir?
Kemajuan teknologi tak hanya menghadirkan produk-produk yang membuat hidup semakin praktis. Sebut saja rice cooker membuat kita nyaman memasak nasi. Hand-phone membuat kita mudah berkomunikasi, atau kendaraan membuat kita dapat menempuh perjalanan jauh dengan hitungan waktu yang tepat.
Kemajuan teknologi juga membuat ruang-ruang dunia terbuka. Dunia tak lagi mengenal batas. Berbagai informasi, dengan beragam bahasa, memasuki ruang-ruang percakapan kita. Beragam orang dengan berbagai idiom, dialek seperti ingin menyapa kita. Begitu juga kita, dengan bahasa paling sublim pun ingin menyapa mereka. Kita seperti ingin berbicara meski bahasa ibu kita, bhasa nasional kita berbeda.
Tapi satu hal yang tak bisa kita ingkari: bahasa ibu kita terbatas, sementara orang-orang yang melintas di beranda media sosial kita begitu menggoda. Kita tergoda. Kita membayangkan dunia yang lebih luas. Kita butuh bahasa yang membuka batas-batas dunia. Lambat laun, lalu cepat, kita mempelajari bahasa-bahasa di luar bahasa ibu: bahasa Inggris, Mandarin, dan lainnya.
***
Pada satu forum diskusi budaya, seorang peserta melontarkan kegelisahan yang klise, Bagaimana cara menyelamatkan wayang golek yang mulai ditinggalkan – sebentar kita abaikan kata punah- di daerahnya? Seperti bahasa, budaya begitu dinamis. Ia tumbuh, berkembang atau kadang-kadang hilang, seiring gerak nalar masyarakat menghitung dan memperhitungkan berbagai kemungkinan dalam memenuhi kebutuhannya: makanan, rekreasi, berkomunikasi, dan lainnya.
Kita kadang gelisah menyaksikan berbagai artefek kebudayaan kita punah: bahasa, wayang, makanan tradisional, permainan tradisional, ritus, situs dan lainnya. Tapi kita kadang hanya terjebak dalam ruang gelisah, lalu menggerutu, tanya sana-sini atau kalau keluar jiwa heroiknya, kita menggelar seminar kebudayaan. Sementara dalam laku, kita bersijingkat dalam ornamen-ornamen yang serba baru, kita larut dalam idiom-idiom serba kekinian. Dalam keseharian, kita selalu ingin up-date, selalu ingin menjadi bagian dari berbagai inovasi dan kreasi ke arah masa depan.
Kita ambil contoh, permainan tradisional jual-jualan. Permainan ini, sejak kita belum mengenal abjad, belum tahu melafalkan satu-dua-tiga dan seterusnya, telah mengajarkan kita tentang bermain peran: jadi ibu, jadi bapak, jadi anak, jadi penjual; batu kita sepakati sebagai tahu, daun kita konsensuskan sebagai selembar uang. Selain itu, permainan tradisional mendidik kita untuk sportif dan fairness: sungguh-sungguh dalam bermain, jujur, respek. Jika hal-hal demikian tidak terjadi dalam permainan, kita bubar. Permainan yang asal-asalan bukanlah permainan. Permainan yang mengabaikan kejujuran, dipenuhi kecurangan tidak bisa dipertahankan.
Lalu datanglah revolusi industri 4.0 membawa berbagai aplikasi game. Kita pun berbondong-bondong bermigrasi. Kita pun khusyuk dengan dunia permainan baru: membangun tembok kerajaan, mengeksploitasi tambang, hutan, memperkuat armada perang, lalu kita melakukan penyerangan. Kita larut dalam dunia baru, mengenal kata-kata baru, dan menyerap berbagai dinamika hidup yang baru.
***
Baris puisi Goenawan Mohamad di awal tulisan ini seperti ingin bertutur bahwa semuanya pada akhirnya retak, pecah atau bahkan hancur-lebur-musnah. Semuanya: hal-ihwal yang kita sebut budaya dengan bahasa akan terus bergerak, hilang entah ke mana lalu berganti yang baru. Begitu seterusnya, berulang-ulang. Tinggal kita, yang pernah mencecapnya, memainkannya, membuatnya abadi. Membuatnya tak lekang oleh musim. Kitalah yang akan selalu mengenang akan berbagai pelajaran, hikmah, dan juga makna yang membuat sebagian hidup kita berarti.
Jika kita abai atau lupa bagaimana cara membuat ‘keabadian’, maka kita tak laiknya berjalan menuju kepunahan. ()
*Salamet Wahedi, M. A.*, Dosen Universitas PGRI Sumenep