Menjaga Nyawa Bahasa Ibu, Guru Batuputih Didorong Aktif Lestarikan Bahasa Madura

DPKSumenep.id – BATUPUTIH – Upaya pelestarian bahasa daerah kembali menemukan momentumnya. Selama dua hari, Rabu–Kamis (8–9 April 2026), para guru SD hingga SMP se-Kecamatan Batuputih mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Bahasa Madura yang digelar secara kolaboratif oleh KKKS dan PGRI Batuputih. Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, melainkan langkah strategis untuk mengembalikan Bahasa Madura sebagai bahasa ibu yang hidup di ruang-ruang pendidikan.

Tiga narasumber dihadirkan untuk memperkuat kapasitas peserta, yakni Zainal Abidin, S.Pd, Nurut Taufik, S.Pd, MM, serta Avan Fathurrahman, M.Pd. Materi yang disampaikan tidak hanya berfokus pada aspek linguistik, tetapi juga pendekatan pedagogis agar Bahasa Madura dapat diajarkan secara kontekstual dan menarik bagi generasi muda.

Ketua KKKS Batuputih, Sawito, S.Pd, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai Bimtek ini sebagai langkah awal yang penting, namun menekankan perlunya kesinambungan. “Kegiatan seperti ini tidak boleh berhenti di sini. Harus ada tindak lanjut agar dampaknya benar-benar terasa di sekolah,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua PGRI Batuputih, H. Ali Wafa, S.Pd, menegaskan bahwa Bimtek ini lahir dari kegelisahan kolektif akan mulai tergerusnya penggunaan Bahasa Madura di kalangan generasi muda. Menurutnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas dan kebanggaan suatu suku.

“Bahasa Madura adalah kekayaan budaya yang harus dijaga. Jika tidak dimulai dari guru, maka sulit berharap siswa akan mencintainya. Karena itu, Bimtek ini dirancang berkelanjutan dengan pola in-on-in, agar ada implementasi nyata di kelas,” tegasnya.

Model berkelanjutan tersebut menjadi poin penting. Tidak sedikit pelatihan berhenti pada tataran teori tanpa dampak signifikan. Melalui pola in-on-in, peserta tidak hanya menerima materi (in), tetapi juga menerapkannya (on), lalu kembali dievaluasi dan diperkuat (in). Skema ini diharapkan mampu menjawab persoalan klasik dalam dunia pendidikan: kesenjangan antara pelatihan dan praktik.

Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi refleksi bahwa pelestarian bahasa daerah tidak bisa diserahkan semata pada kurikulum formal. Diperlukan komitmen kolektif, terutama dari para guru sebagai garda terdepan pendidikan. Tanpa itu, Bahasa Madura berisiko hanya menjadi simbol, bukan lagi bahasa yang hidup dalam keseharian siswa.

Bimtek ini pada akhirnya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan investasi jangka panjang. Ketika guru mampu mengajarkan Bahasa Madura secara menarik dan relevan, maka di situlah harapan pelestarian budaya menemukan jalannya—pelan, namun pasti. (bus)

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments