DPKSumenep.id – Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, SDN Panaongan III menunjukkan komitmen luar biasa dalam menjaga dan melestarikan kekayaan budaya lokal. Sekolah yang terletak di pinggiran Kecamatan Pasongsongan ini resmi meluncurkan program intrakurikuler bertajuk MALESMAMA, akronim dari Mari Lestarikan Macapat Madura.
Program ini digagas langsung oleh Kepala SDN Panaongan III, Agus Sugianto, S.Pd. dua tahun yang lalu,sebagai bentuk kepedulian terhadap makin langkanya generasi muda yang peduli akan seni budaya Madura, khususnya Macapat Madura.Sebuah karya sastra lisan yang sarat nilai, namun kian tergerus zaman.
“Kalau bukan kita yang merawat budaya sendiri, siapa lagi? Saya ingin anak-anak kami mengenal, mencintai, dan bangga terhadap kekayaan budaya leluhur mereka,” ujar Agus Sugianto penuh semangat.
Yang membedakan MALESMAMA dari sekadar program formalitas adalah adanya sumber daya manusia yang mumpuni. SDN Panaongan III memiliki seorang guru yang ahli dalam bidang Macapat Madura. Potensi ini langsung ditangkap oleh Agus Sugianto untuk dijadikan fondasi dalam merancang pembelajaran intrakurikuler yang menghidupkan kembali seni tembang tradisional tersebut di tengah-tengah siswa.
Setiap pekan, para siswa diajak tidak hanya belajar melagukan Macapat dengan langgam Madura, tetapi juga menggali makna filosofis dan nilai-nilai luhur di balik tiap baitnya. Dari sinilah lahir semangat baru dalam diri siswa untuk menjaga budaya mereka sendiri.

Hasilnya? Tidak butuh waktu lama bagi program ini untuk menunjukkan dampak nyatanya. Salah satu siswa SDN Panaongan III berhasil mengharumkan nama sekolah dengan meraih Juara III dalam lomba tembang Macapat pada ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tahun 2024 tingkat Kabupaten Sumenep. Ini menjadi bukti bahwa MALESMAMA bukan hanya gerakan pelestarian budaya, tetapi juga wadah pengembangan potensi dan prestasi generasi muda Madura.
“Kami tidak ingin budaya ini hanya tinggal cerita. Kami ingin anak-anak tumbuh bersama budayanya, bukan melupakannya. MALESMAMA adalah langkah kecil kami untuk masa depan yang besar,” tutup Agus Sugianto.
Dengan semangat seperti ini, SDN Panaongan III tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga berakar kuat pada budaya lokal. MALESMAMA telah menjadi gerakan budaya sekolah yang tak hanya menjaga warisan leluhur, tapi juga menciptakan prestasi membanggakan. Layak jadi contoh, layak jadi inspirasi. (*)